Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Perspektif Psikologi Komunitas

selamat malam kawan,. kali ini aku mau share tugas dulu,.. ini adalah tugas psikologi klinis mengenai kenakalan remaja yang ditinjau dari perspektif psikologi komunitas dengan penanganan klinis,. ok dah, langsung saja yaa…

Latar belakang masalah

Dewasa ini, banyak sekali kasus-kasus mengenai kenakalan remaja yang terjadi disekitar kita, (seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan lain-lain). Salah satu kenakalan remaja yang akhir-ahir ini menganggu kehidupan masyarakat kita adalah maraknya kekerasan yang dilakukan oleh geng motor.

Terbentuknya geng motor, rata-rata diawali dari kumpulan remaja yang hobi balapan liar dan aksi-aksi yang menantang bahaya pada malam menjelang dini hari di jalan raya. Setelah terbentuk kelompok, bukan hanya hubungan emosinya yang menguat, dorongan untuk unjuk gigi sebagai komunitas bikers juga ikut meradang. Mereka ingin tampil beda dan dikenal luas. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh komunitas bikers untuk bias dikenal luas oleh masyarakat, seperti perlombaan mengendarai motor secara akrobatik, perlombaan modifikasi motor dan cara positif lainnya. Sayangnya tidak semua komunitas bikers menggunakan cara positif untuk memperkenalkan komunitasnya, diantara mereka ada yang menggunakan cara-cara negatif, salah satunya dengan melakukan aksi-aksi yang sensasional. Mulai dari kebut-kebutan, tawuran antar geng, tindakan kriminal tanpa pandang bulu mencuri di toko, hingga perlawanan terhadap aparat keamanan.

Menurut Le Bon (1996) kekerasan geng motor dalam sudut pandang psikologi sosial termasuk pada kerumunan terorganisasi atau kerumunan psikologis yang menjadi suatu makhluk tunggal yang tunduk pada apa yang dinamakan hukum kesatuan mental kerumunan.

Teori ini sangat beralasan jika kita hubungkan dengan realitas geng motor dalam konteks kekinian, sebab semua anggota geng motor patuh pada nilai-nilai kolektif yang dianut bersama seperti semangat solidaritas kelompok ‘senasib-sepenanggungan’. Penanaman nilai-nilai kolektif ini dimulai sejak proses inisiasi (rekruitmen anggota baru) yang juga dilakukan berdasarkan cara-cara kekerasan, yang menurut mereka hal tersebut sebagai wujud untuk menghargai nilai-nilai senioritas dan sebagai upaya mempersiapkan anggotanya menghadapi tantangan karena jalan adalah adalah keras.

Psikologi komunitas cukup populer dengan definisi sebagai ilmu yang mempelajari efek-efek sosial dan faktor-faktor lingkungan terhadap perilaku yang terjadi pada individu, kelompok, organisasi, dan tingkat sosial yang lain (Heller et. Al. 1984, p. 18). Devinisi tersebut mengungkapkan bahwa psikologi komunitas adalah isu-isu sosial, intuisi-intuisi sosial, dan setting lain yang mempengaruhi kelompok-kelompok dan organisasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan serta mengoptimalkan kesejahteraan (well-being) dari komunitas dan individu dengan penanganan alternatif yang inovatif dengan berkolaborasi bersama anggota komunitas serta disiplin ilmu terkait didalam maupun diluar psikologi.

Landasan teori

Kenakalan remaja

W.A. Bonger dalam kitab kecilnya Inleiding tot de Criminologi antara lain mengemukakan : “ kejahatan anak-anak dan pemuda-pemuda sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan, lagi pula kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah sejak kecil. Siapa menyelidiki sebab-sebab kejahatan anak-anak dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kejahatan anak-anak yang dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kejahatan anak-anak yang kemudian akan berpengaruh baik pula terhadap pencegahan kejahatan orang dewasa “.

Istilah baku perdana untuk kenakalan remaja dalam konsep psikologis adalah juvenile deliquency, yang memiliki arti perilaku jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabdian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.

Purnianti mendefinisikan kenakalan remaja berdasarkan perspektif sosiologis, dalam tiga kategori, yaitu :

  1. Definisi hukum, menekankan pada tindakan/perlakuan yang bertentangan dengan norma yang diklasifikasikan secara hukum,
  2. Definisi peranan, dalam hal ini penekanannya pada pelaku, remaja yang peranannya diidentifikasikan sebagai kenakalan,
  3. Definisi masyarakat, perilaku ini ditentukan oleh masyarakat.

Kenakalan remaja adalah suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarkat. Kartini Kartono (seperti dikutip Dirgantara Wicaksono, 2010) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Kenakalan remaja ini biasanya disalurkan dalam berbagai bentuk, mulai dari kenakalan yang bisa dimaklumi sampai kenakalan yang dapat meresahkan masyarakat. Contoh kenakalan remaja diantaranya adalah membolos sekolah, membantah orang tua, dan tawuran.

Pengertian geng motor

Geng motor adalah kumpulan orang-orang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai. Kelahiran geng motor, rata-rata diawali dari kumpulan remaja yang doyan balapan liar dan aksi-aksi menantang bahaya pada malam menjelang dini hari di jalan raya. Setelah terbentuk kelompok, bukan hanya hubungan emosi para remaja saja yang menguat, dorongan untuk unjuk gigi sebagai komunitas bikers juga ikut meradang. Mereka ingin tampil beda dan dikenal  luas. Caranya yaitu dengan membuat aksi-aksi yang sensasional. Mulai dari kebut-kebutan, tawuran antar geng, tindakan kriminal tanpa pandang bulu, hingga perlawanan terhadap aparat keamanan.

 

Pembahasan

Di indonesia psikologi komunitas dibahas sebagai “kesehatan masyarakat” dalam disiplin ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan masyarakat. Psikologi komunitas juga merupakan sub bagian dalam psikologi sosial, sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Akan tetapi dalam hal ini psikologi komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain dalam hal gangguan emosional, penyesuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya.

Psikologi komunitas berbicara adanya upaya untuk mencegah munculnya permasalahan klinis pada tingkatan sosial yang ada. Hal ini juga berarti intervensi psikologi sosial pada berkembangnya permasalahan sosial. Ada pembagian diantara tingkatan dari intervensi pencegahan, yaitu: pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier. Pencegahan primer merupakan usaha mencegah suatu masalah yang terjadi secara umum dan bersama-sama atau permasalahan muncul paling awal pada situasi yang memungkinkan terjadi. Cowen berargumen ada kriteria yang harus diikuti dalam pencegahan primer ini: program harus berorientasi pada massa atau kelompok, harus dilakukan sebelum maladjustment, merupakan tindakan sengaja sebagai fokus pada kekuatan penyesuaian. Sedangkan pencegahan sekunder merupakan usaha untuk mengatasi masalah pada situasi mungkin muncul untuk pertama kalinya sebelum hal ini menjadi semakin parah. Pencegahan tersier merupakan usaha untuk mengurangi kuatnya masalah yang sekali muncul dari suatu kejadian yang terus menerus.

Polemik mengenai kekerasan geng motor ini merupakan fenomena yang penting untuk dikaji dalam psikologi komunitas. Hal ini terkait dengan fungsi dari eksistensi psikologi komunitas sebagai ilmu. Sebagai ilmu, psikologi komunitas memiliki tanggung jawab dalam mengkaji hubungan timbal balik antara manusia dengan konteks sosialnya, dalam hal ini komunitasnya. Selain mengkaji hubungan, psikologi komunitas juga memiliki tanggung jawab dalam menilik permasalahan yang terjadi dalam komunitas tersebut. Hal ini menjadi penting untuk dibicarakan, mengingat psikologi komunitas memiliki tujuh nilai penting yang menjadi inti pembahasan, yakni kesejahteraan individual, sense of community, keadilan sosial, partisipasi publik, kolaborasi dan kekuatan komunitas, respek terhadap perbedaan, dan memilik basis empirik. (Dalton, dkk, 2001).

Subkultur geng anak muda, kata kriminolog Cloward dan Ohlin, akan tumbuh subur tergantung pada tipe atau cara pertentangan di mana mereka tinggal. Ada tiga tipe geng, pertama, geng pencurian (thief gangs), mereka berkelompok melakukan pencurian yang mula-mula hanya untuk menguji keberanian anggota kelompok. Kedua, geng konflik (conflict-gangs) kelompok ini suka sekali mengekpresikan dirinya melalui perkelahian berkelompok supaya tampak gagah dan pemberani. Ketiga, geng pengasingan (retreats gangs), kelompok geng ini sengaja mengasingkan dirinya dengan kegiatan minum-minuman keras, atau napza yang kerap dianggap sebagai suatu cara ”pelarian” dari alam nyata. Tetapi bisa saja sebuah geng memiliki lebih dari satu macam tipe.

Dalam geng acapkali tumbuh subkultur kekerasan (subculture of violence). Munculnya subkultur itu disebabkan oleh adanya sekelompok orang yang memiliki sistem nilai yang berbeda dengan kultur dominan. Masing-masing subkultur memiliki nilai dan peraturan berbeda-beda yang kemudian mengatur anggota kelompoknya. Nilai-nilai itu terus berlanjut karena adanya perpindahan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hal ini diperparah oleh adanya perubahan yang cepat (reformasi) dalam masyarakat. Perubahan pada struktur sosial memperlemah nilai-nilai tradisional yang berasosiasi dengan penundaan kepuasan, belum lagi peningkatan jumlah anak muda dari kelas menengah yang tidak lagi memiliki keyakinan bahwa cara untuk mencapai tujuan mereka adalah melalui kerja keras dan menunda kesenangan. Mereka terlibat dalam delinquent gang, hate gang, atau satanic gang (pemuja setan) yang berkembang di kalangan anak muda kelas menengah di Amerika Serikat. Perilaku nakal  pada remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal:

1. Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.  Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran.  Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2. Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

 

Faktor eksternal:

1. Keluarga

Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluargapun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

2. Teman sebaya yang kurang baik

3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik

Dapat dilihat dari dua faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja, ketika mereka memiliki krisis identitas, kontrol diri yang lemah, faktor keluarga, teman sebaya, dan komunitas/lingkungan tempat tinggal mereka yang kurang baik, yang menyebabkan perilaku mereka tidak sesuai dengan norma yang ada dilingkungannya sehingga lingkungan menolak mereka, sehingga mereka bersatu atas penolakan lingkungan yang diberikan kepada mereka contohnya seperti geng motor. Disinilah psikologi komunitas berperan penting untuk masuk keranah masyaraka/komunitas yang bersangkutan. Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kenakalan remaja dan bagaimana cara menanganinya, terutama pemahaman kepada keluarga mengenai pola asuh anak, sehingga keluarga dapat mengontrol perkembangan anak, dengan siapa ia bergaul, dilingkungan mana saja yang anak kunjungi sehingga kenakalan remaja dapat diatasi lebih dini.

Dalam pendekatan psikologi penanganan kenakalan remaja memiliki banyak cara yang bervariasi namun dalam pembahasan fenomena komunitas geng motor kita memfokuskan menggunakan 2 metode, yaitu: 1.  Behavioural methods, 2. Cognitive-behavioral (CBT) methods.

  

Metode Penanganan Juvenile Delinquency

  1. Behavioural Methods

Penanganan kenakalan remaja geng motor dengan menggunakan metode ini adalah dengan mencoba untuk mengubah perilaku remaja tersebut. Behavioural methods akan lebih terlihat hasilnya ketika diiringi dengan multimodal interventions (Henggeler dalam Herbert, 2005). Penanganannya termasuk:

- Training komunikasi

- Feedback

- Positive interruption

- Problem-solving

- Membentuk pemikran rasional

- Happy talk

- Positive request

- Non-blaming communication

- Training keahlian negosiasi

- Meningkatkan dialog

- Permainan-permainan dalam keluarga

Selain cara-cara diatas terdapat beberapa training dan program rehabilitasi yang berbeda, antara lain:

-  The Reasoning and Rehabilitation Programme, dikembangkan oleh Ross and Fabiono dalam Herbert (2005). Dalam fenomena komunitas geng motor perlu diadakannya program rehabilitasi dan penalaran untuk para anggota geng sesuai dengan prosedur rehabilitasi tersebut untuk mengubah perilaku ‘ngebut-ngebutan’ dan melanggar lalu lintas menjadi pemakai jalan raya yang beradab.

-    Agression Replacement Training (ART) (Glick & Goldstein dalam Herbert, 2005) terdiri dari tiga pendekatan utama untuk mengubah perilaku: bentuk pembelajaran keahlian sosial, training mengkontrol kemarahan atau emosi, dan pendidikan moral. Anggota geng motor perlu memahami untuk berinteraksi sosial yang seharusnya. Selain itu, mengontrol emosi atau kemarahan adalah aspek penting yang harus dilakukan anggota geng tersebut karena biasanya gejolak emosi yang berlebihan itulah yang menyebabkan seorang remaja menyalurkan dalam bentuk juvenile deliquency. Pendidikan formal juga faktor penting yang harus didapatkan oleh para remaja.

 

Cognitive-behavioural (CBT) Methods

Pendekatan CBT sebagai intervensi untuk kenakalan remaja biasanya terdiri dari beberapa teknik yang mana merupakan akar dari terapi kognitif (persuasion, challenging, debate, hypothesizing, cognitive restructuring, and internal debate) yang digabungkan dengan terapi prilaku (operant procedure, desentization, social skills training, role play, behaviour rehearsal, modelling, relaxation exercise, self monitoring).

  1. Training relaksasi, yaitu remaja anggota geng motor tersebut perlu mengikuti training relaksasi ataupun menggunakan teknik-teknik atau cara-cara yang dapat membuat mereka tenang dan nyaman. Hal ini disebabkan dengan hati yang panik dan penuh gejolak akan menyebabkan seseorang salah dan tidak awas untuk mengambil suatu tindakan. Selain itu, dalam keadaan tenang dan nyaman akan mempermudah seseorang dimana dalam konteks ini remaja anggota geng motor untuknmenerima perlakuan-perlakuan lainnya.
  2. Modelling dan reinforcement tingkahlaku, yaitu dengan memberikan mereka model dan penguatan yang dapat mereka tiru. Hal ini penting karena biasanya remaja yang terjebak oleh kenakalannya tidak dapat membedakan apakah tindakan mereka itu baik atau buruk. Oleh karena itu, dengan adanya contoh dan penguatan baik itu reward atau punishment akan memberi arahan bagi remaja anggota geng motor tersebut.
  3. Menumbuhkan lebih banyak pikiran-pikiran positif (kognisi) dan atribusi diri untuk alter maladaptive beliefs, yaitu dengan memberi sugesti-sugesti positif apa yang seharusnya dilakukan. Sehingga para komunitas geng motor tersebut dapa bepikir bahwa tindakan mereka itu tidak benar.
  4. Pengalaman kegiatan yang menyenangkan, yaitu mengganti tindakan mereka yang tidak mematuhi norma-norma sosial dengan kegiatan lain yang menyenangkan namun itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada seperti permainan balapan motor, atau pertandingan balap motor F1, atau dengan kegiatan-kegiatan yang lain.
  5. Menggunakan operant conditioning untuk mengembangkan perilaku prososial dan mengembangkan keahlian sosial, yaitu menggunakan reinforcement untuk menimbulkan perilaku yang dapat diterima sosial.

 

Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai kenakalan remaja berupa kasus geng motor dapat disimpulkan bahwa psikologi komunitas dibutuhkan perannya dikalangan masyaraka/komunitas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kenakalan remaja dan bagaimana cara menanganinya, terutama pemahaman kepada keluarga mengenai pola asuh anak, sehingga keluarga dapat mengontrol perkembangan anak, dengan siapa ia bergaul, dilingkungan mana saja yang anak kunjungi sehingga kenakalan remaja dapat diatasi lebih dini.

Penanganan kenakalan remaja dalam fenomena komunitas geng motor menggunakan pendekatan psikologi, dapat menggunakan dua metode, yaitu: Behavioural methods, dan Cognitive-behavioral (CBT) methods. Behavioural methods adalah metode dengan mengubah perilaku geng motor tersebut dan menggantinya dengan perilaku lain yang baik. CBT methods adalah metode yang digunakan dari kombinasi penguatan secara kognitif dan perilaku.

Selain itu juga terdapat beberapa training dan program rehabilitasi yang berbeda, antara lain: The Reasoning and Rehabilitation Programme, dikembangkan oleh Ross and Fabiono dalam Herbert (2005) yaitu program rehabilitasi dan penalaran untuk para anggota geng sesuai dengan prosedur rehabilitasi tersebut untuk mengubah perilaku ‘ngebut-ngebutan’ dan melanggar lalu lintas menjadi pemakai jalan raya yang beradab, dan Agression Replacement Training (ART) (Glick & Goldstein dalam Herbert, 2005) yaitu bentuk pembelajaran keahlian sosial, training mengkontrol kemarahan atau emosi, dan pendidikan moral.

 

Saran

Untuk mengurangi kenakalan remaja terutama kenakalan geng motor yang cenderung destructive, sebaiknya kepada mereka diberikan kegiatan yang positif sebagai pengisi waktu mereka berkumpul. Apabila komunitas geng motor tersebut sudah terbiasa melakukan kegiatan yang destructive ada baiknya  untuk melakukan rehabilitasi pada komunitas tersebut.

 

Daftar Pustaka

One response to “Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Perspektif Psikologi Komunitas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s